Lelah setelah cari-cari tiket untuk mudik belum hilang, Rabu sore itu, seminggu sebelum lebaran pikiran saya dibuat tambah pusing tujuh keliling. Betapa tidak, satu persoalan baru ini bagi kami apalagi diwaktu sekarang ini, begitu sangat buesaaar!...hari itu saya membawa uang tunai belasan juta, sebagiannya uang program Paket Ifthar yang harus dibagi dalam 1-2 hari kedepan. Dan uang itu….Hilang!
Teringat saya sebelumnya,
Karena hendak mencari celana lebaran untuk anak-anak yang belum terbeli, mampirlah saya ke Toserba Sabar Subur di Pasar Baru Tangerang selepas kerja di Jakarta. Tas ransel tidak diperkenankan dibawa maka saya titipkan setelah sebelumnya dua amplop uang didalamnya saya ambil lalu saya kantongi. Sayapun menuju konter pakaian anak-anak. Ramai sekali
Setelahnya, saya ambil tas meski dua amplop itu tidak lantas saya masukkan tas, uang itu tetap dikantong. Berjalanlah saya keluar, membelah keramaian menuju tempat parkir sambil merogoh saku, mengambil uang untuk parkir.
Seribuan saya serahkan ke satu perempuan tua yang bersimpuh di pintu keluar Toserba, lima ribuan saya pegang untuk diserahkan ke tukang parker. Rupanya, disisi yang lain, sisi yang saya lewati menuju motor, terdapat seorang lagi perempuan tua yang sempat tertangkap disudut mata saya, seolah bersiap menerima uang yang saya pegang, dikiranya akan dikasihkan kepadanya. Dan saya pura-pura tak melihatnya.
Setelah membayar parkir dan menerima kembalian, saya masukkan kedalam tas dua amplop uang tadi. Saya pastikan resleting tas rapat sebelum saya beranjak dan pulang. Ketika itu, setidaknya dua orang melintas persis dibelakang saya. Salah satunya, sepertinya perempuan tua tadi dan lelaki muda. Sejurus kemudian, sayapun pulang.
Ketika dirumah, saya langsung tune in dengan aktifitas biasa bersama anak-anak dan sedikit mempersiapkan bekal perjalanan mudik. Tidak ada masalah sampai kemudian ummi anak-anak menemukan satu amplop uang dan kondisi tas yang sudah terbuka resletingnya.
Kekhawatiranpun mencuat, disusul keterkejutan yang sangat karena cuma satu itu amplop tersisa, satu lagi sudah tidak ada ditempat semula. Isinya, lebih dari delapan juta. Sebuah kehilangan besar buat saya apalagi disaat-saat sekarang ini. Innalillahi wainna ilaihi rajiun
Awalnya, saya berharap mas Syakir nakal (lagi dan moga terakhir…) mengambil amplop itu, karena memang akhir-akhir ini ia hobi banget beli korek untuk bakar-bakar sampah yang ada ditaman komplek. Setelah ditanya dengan segala macam cara. Kesimpulannya, sepertinya tidak.
Ah, apakah karena saya tidak memberi uang kepada perempuan kedua di Toserba tadi padahal (mungkin) dipikirnya uang ditangan saya waktu itu akan diberikan kepadanya. Atau juga karena orang-orang yang datang ke kantor, yang mengaku sebagai mustahik lalu merasa terdholimi karena permintaannya tidak dikabulkan pada waktu itu juga, sewaktu saya menggantikan petugas layanan yang sedang istirahat. Maka, ampunilah hamba ya Rabb….
Atau, zakat yang baru saya bayarkan pagi tadinya kurang bayar? Atau…atau…..ah, rasanya banyak lagi kesalahan-kesalahan yang mungkin menyebabkan ini terjadi.
Ya Allah, saya berharap mudah-mudahan musibah ini bukanlah peringatan atau bahkan azab. Ia hanyalah sekedar ujian yang memang harus dilalui seseorang. Semoga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar