seseorang yang sedang berusaha untuk terus mempertebal keyakinan bahwa dalam setiap episode, bahkan yang terkecilpun, dalam rangkaian hidupnya adalah terkandung pelajaran kemudian meridhai
Artikel Populer
-
Hadits ini, sudah beberapa kali saya dengar. beberapa kali pula saya mendapatkan penjelasan. tapi, entah mengapa, beberapa hari lalu dalam s...
-
Lelah setelah cari-cari tiket untuk mudik belum hilang, Rabu sore itu, seminggu sebelum lebaran pikiran saya dibuat tambah pusing tujuh keli...
-
sebuah ikhtiar untuk "mengabadikan" penggal-penggal episode yang kiranya dapat diambil pelajaran untuk diri dan siapa saja yang be...
-
“Kunjungan kerja “ kali ini kami menyambangi beberapa komunitas kecil saudara-saudara kita di sekitar kaki dan puncak Gunung Sinabung di Kab...
-
Bapak DR.Mohammad Natsir, pemimpin pemandu umat Islam Indonesia, bekas Perdana Menteri Pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia , yang di ...
-
“kami dibolehkan tinggal ditanah ini, juga dibantu pembangunan rumahnya, Alhamdulillah. Kami juga berencana ingin ternak lele….paling tidak ...
Jumat, 09 September 2011
kisah tentang uang delapan juta saya............
Jumat, 12 Agustus 2011
Hak-hak mereka yang harus kita penuhi...
Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, dengan derajat Hasan Shohih bunyinya "IttaqiLlaha haitsuma kunta wa athbi`issayyiata hasanata tamkuha wakholiqinnas bikhuluqin hasan". yang sering diartikan dengan Bertaqwakal kalian kepada Allah SWT dimanapun berada, ikutilah perbuatan buruk (yang tidak disengaja) dengan kebaikan sehingga menghapus dosanya, dan pergaulilah manusia dengan akhlaq yang baik.
Dalam hadits tersebut, terdapat 3 hak atas setiap kita atau dengan kata lain 3 dimensi kewajiban yang harus kita tunaikan.
Pertama, HaqquLlahu ta`ala alaika anta, Hak Allah SWT atas kita berdasar kalimat IttaqiLlaha haitsuma kunta. Artinya, Allah SWT berhak mendapatkan ketaatan kita, taat yang sebenar-benarnya taat, haqqa tuqatih. dimana saja kapan saja, apa saja profesi dan aktifitas kita. pokoknya tiap detiknya, semua yang dilakukan oleh kita adalah dalam rangka ketaatan kita kepada-Nya. wama kholaqtul jinna wal insa illa liya`budun
Kedua, Haqqu nafsika alaika anta. Hak diri sendiri atas kita berdasar kalimat wa athbi`issayyiata hasanata tamkuha. Hak itu adalah Tazkiyah, diri ini, dalam hal ini jiwa, jiwa kita perlu terus dipupuk, dipelihara, dibina. diobati jika ada luka, luka yang merusak fitrahnya. Tazkiyatun Nafs, itulah hak jiwa kita atas kita
Ketiga, Haqqunnas alaika anta. Hak orang lain disekitar atas kita berdasar kalimat wakholiqinnas bikhuluqin hasan. Mereka, orang-orang disekitar kita berhak mendapat tata pergaulan yang baik dari kita. Sesungguhnya termasuk sebaik-baik kalian adalahj yang paling baik akhlaknya (HR. Bukhari). Jadi, keberadaan kita seyogyanya menjadi nilai tambah dalam masyarakat kita, bukan malah menjadi sampah bagi mereka.
Allahu a`lam, mudah-mudah kita dipermudah Allah SWT dalam menunaikan kewajiban ini, Amien
Senin, 16 Mei 2011
Sepenggal cerita dari Magelang
“kami dibolehkan tinggal ditanah ini, juga dibantu pembangunan rumahnya, Alhamdulillah. Kami juga berencana ingin ternak lele….paling tidak untuk makan sehari-hari” ujar seorang ibu yang kami temui di daerah Adikarto, Magelang ketika kami berkesempatan mengunjunginya sepekan yang lalu. Ibu tersebut bisa dikatakan sedikit beruntung, bersama 12 KK lainnya ia kini menempati rumah bantuan diatas sebidang tanah bekas lahan pertanian milik desa (bengkok). Sehingga tidak harus tinggal di pengungsian
Sementara itu, di desa Sirahan kec. Salam Kab. Magelang, setidaknya ada 370 KK yang rumahnya hancur dan rusak karena terjangan lahar dingin. Mereka kini harus tinggal di pengungian. Kehidupan sehari-hari mereka berubah, tanpa aktifitas karena sawah dan ladang ikut tertimbun. Jiwa mereka tertekan, daya tahan tubuh menurun dan kesehatan terancam. Kondisi seperti ini entah sampai kapan harus mereka lalui. Karena secara teknis, wilayah desa mereka masih sangat berbahaya untuk ditempati mengingat para ahli mengatakan, material merapi yang turun dan menerjang desa mereka baru sekitar 25 % saja.
Sebagian warga korban lahar dingin sebenarnya menginginkan adanya aktifitas produktif yang bisa menjadi penyangga hidupnya, tidak selamanya mengaharapkan uluran tangan masyarakat. Atau setidaknya dapat menghilangkan penat seharian dipengungsian. “Alhamdulillah pak, Manfaatin pasir yang ada, lumayan bisa buat dinding rumah nantinya. Syukur nanti bisa dibeli toko material. Lagian daripada nganggur terus di pengungsian bikin stres,.”..demikian ujar Pak Yanto ketika kami berkesempatan mengunjunginya. Dirumah yang sebagiaan besar dindingnya rontok karena terjangan material lahar dingin merapi.
Pak Yanto adalah satu dari sekian warga korban lahar dingin merapi di wilayah Magelang mendapatkan paket bantuan berupa alat pres batako dan semen dari Dewan Da`wah.
Lalu, jika hasil produksi batako masing-masing sudah berhasil mencukupi untuk membangun rumah sendiri, kemana batako tersebut akan disalurkan. “kita sudah menghubungkan dengan beberapa toko material di Magelang yang siap menampung batako hasil produksi masyarakat, khususnya korban banjir lahar dingin di wilayah Magelang” jawab Ade Salamun, Direktur LAZIS Dewan Dawah
Sebelumnya, Dewan Da`wah telah menyalurkan bantuan berupa tas dan peralatan sekolah untuk anak-anak yang turut mengungsi, kebutuhan pokok dan menempatkan da`I pendamping di wilayah Merapi. [Op]
Selasa, 10 Mei 2011
akhi, tolong antum sampaikan kepada saudara-saudara di Jakarta ……….
“Kunjungan kerja “ kali ini kami menyambangi beberapa komunitas kecil saudara-saudara kita di sekitar kaki dan puncak Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, khususnya di sekitar lokasi letusan Gunung Sinabung. Pada 22 sampai 24 September yang lalu ditengah issu akan kembali meletusnya Gunung Sinabung, bahkan konon lebih besar.
Setelah lima jam perjalanan meliuk-liuk kami lalui dalam dinginnya malam di pegunungan dari Kota Medan bersama truk-truk besar yang hendak pergi menuju Aceh, akhirnya kami sampai di desa yang Desa Limang di Kecamatan Tiga Binanga. Di Masjid Harapan, kami diterima hangat.
“masjid ini merupakan basis pembinaan kaum muslimin di sini, cakupannya sampai 7 desa di sekitarnya” tutur ustadz Sahlul, da`I yang bertugas membina masyarakat minoritas di desa Limang dan sekitarnya.
Penduduk muslim didesa yang mayoritas petani penggarap ini sekitar 100 KK dari 400 KK total penduduknya. Dan merupakat komunitas muslim terbesar dibanding desa-desa disekitarnya yang berkisar 25 KK. Maka tidak heran jika untuk kegiatan-kegaiatan keagamaan maupun ketika ada warga muslim yang meninggal didesa sekitar, maka pengurusannya dilakukan oleh ustadz Sahlul atau jamaah yang bisa. Sedangkan jarak desa terdekat dari desa Limang sekitar 15 km yang terletas dibalik perbukitan yang harus melalui alam pegunungan yang belum terjamah. Terbatasnya tenaga da’i menjadi permasalahan utama pembinaan masyarakat yang selama ini mereka hadapi. Bahkan satu desa kini ada yang tinggal 4 KK muslim karena yang lainnya telah murtad.
.”pada hari-hari biasa, kalau ada kematian atau acara keagamaan biasanya saya atau jamaah sini yang mengurusi. Tapi pas , iedul fitri dan iedul adha biasanya mereka tidak sholat karena tidak ada imamnya” cerita ust. Sahlul membuat hati kami miris. “Jadi jangan ditanya tentang Qurban” sambungnya sambil tersenyum.
Beberapa desa sekitar Limang memang tidak terdapat Da`I yang membina. Sehingga hampir dipastikan tidak ada pemotongan hewan Qurban di sana.
Sedangkan untuk pendidikan anak-anak muslim, pada tahun ini sudah mulai dibuka TK Islam yang kegiatannya dilakukan di serambi Masjid. “Alhamdulillah, tahun ini kita bisa membuka TK meski belum ada kelas, meja apalagi mainan anak-anak” cerita ust. Sahlul sambil membandingkan sarana yang ada. “waktu masih sekolah disana, setiap mau makan anak saya selalu berdoa seperti mereka” sela seorang jama`ah.
Kebijakan Pemerintah setempat mewajibkan calon siswa yang hendak masuk SD harus memiliki ijazah TK, sementara belum adanya TK Islam memaksa anak-anak harus sekolah di TK non Muslim.
Obrolan dengan saudara-saudara muslim yang tinggal dipedalaman memang selalu memberikan kesan mendalam.sekalighus menyadarkan betapa kecilnya peran yang telah kami lakukan untuk Islam jika dibandingkan dengan pejuang-pejuang da`wah yang ikhlas berjibaku dipedalaman. Perjuangan yang tidak membutuhkan sorotan media.
Tanpa terasa waktu terus berjalan sementara kami harus melanjutkan perjalanan menyambangi saudara-saudara yang lain di balik perbukitan di kaki Sinabung.
“akhi, tolong antum sampaikan kepada saudara-saudara di Jakarta, Insya Allah antum tahu apa yang kaum muslimin disini butuhkan ”. pesan ustadz yang kini harus berjalan kaki dalam menyambangi binaannya karena sepeda motor bututnya (keluaran tahun ’67) tersapu air bah, diakhir perjumpaan.
Insya Allah, ustadz !! [Op]
Cara Seorang Pemimpin Pulang
Bapak DR.Mohammad Natsir, pemimpin pemandu umat Islam Indonesia, bekasPerdana Menteri Pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang di kenal dengan “mosi integral Natsir”, pendiri Yayasan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Wakil Presiden Muktamar Alam Islami, Ketua Umum Partai Masyumi yang dibubarkan oleh pemerintahan Presiden Soekarno pada tahun 1960, selalu memesankan setiap pribadi pemimpin selalu teguh (istiqamah) dalam pendirian.
Di saat para pemimpin pejuang beranjak pulang kembali dari jihadnya menghidupkan jiwa umat, agar selalu terjaga ruhnya tetap hidup, Bapak Mohammad Natsir, mengingatkan dengan ungkapan yang teramat politis dan puitis tentang kriteria pemimpin yang pulang itu. “Empat cara, pulang bagi Pemimpin dari Perjuangan. Dia pulang dengan kepala tegak, membawa hasil perjuangan.” Maka dia harus bersyukur kepada Allah, dengan selalu menjaga umat tetap berada pada garis perjuangannya. Dia tidak boleh berhenti.
Ada pula yang, “Dia pulang dengan kepala tegak, tapi tangan di belenggu musuh untuk calon penghuni terungku (tempat pembakaran), atau lebih dari itu, riwayatnya akan menjadi pupuk penyubur tanah Perjuangan bagi para Mujahidin seterusnya”. Seorang pemimpin penjuang, semestinya memiliki kerelaan tinggi, berkorban diri untuk kepentingan umatnya. Bukan sebaliknya, minta di sanjung oleh umat yang di pimpinnya.
Tidak jarang, seorang pejuang pemimpin, terpaksa harus menyerahkan jasadnya. Namun, rohnya tetap hidup dan menghidupi jiwa umat yang di pimpinnya. Karena itu, ada pemimpin, “Dia pulang. Tapi yang pulang hanya namanya. Jasadnya sudah tinggal di Medan Jihad. Sebenarnya, di samping namanya, juga turut pulang ruh-nya yang hidup dan menghidupkan ruh umat sampai tahun berganti musim, serta mengilhami para pemimpin yang akan tinggal di belakangnya”. Tentu, bukanlah pemimpin sejati, yang pulang dengan menyerah kalah. Atau menjadi pengikut arus tasyabbuh, berlindung pada hilalang sehelai, karena mendandani diri sendiri.
Lebih parah lagi kalau terjadi pencampur bauran haq dan bathil, sehingga jiwa umat jadi mati. Pemimpin yang sedemikian, kata Pak Natsir , serupa dengan ”Dia pulang dengan tangan ke atas, kepalanya terkulai, hatinya menyerah kecut kepada musuh yang memusuhi Allah dan Rasul. Yang pulang itu jasadnya, yang satu kali juga akan hancur. Nyawanya mematikan ruh umat buat zaman yang panjang. Entah pabila umat itu akan bangkit kembali, mungkin akan diatur oleh Ilahi dengan umat yang lain, yang lebih baik, nanti. Ia “Pemimpin” dengan tanda kutip.”
Namun, ada pemimpin pejuang yang tidak pernah pulang dari medan jihadnya. Mereka itu “Adakalanya ada nakhoda berpirau melawan arus.Tapi berpantang ia bertukar haluan, berbalik arah. Ia belum pulang.” Berpirau artinya maju. Maju menyongsong angin dan arus. Waktu berpirau, perahu di kemudikan demikian rupa, sehingga angin dan gulungan ombak tidak memukul tepat depan, tetapi menyerong. Adapun haluan pelayaran tetap kearah tujuan yang telah ditentukan, tidak berkisar. Dalam suasana sulit sekalipun, pemimpin umat harus bisa istiqamah mencapai arah dan tujuannya, walaupun untuk itu dia terpaksa melawan arus dan gelombang.. Pesan ini disampaikan beliau dalam satu ungkapan indah di Medan Djihad, 24 Agustus 1961/ Maulid 1381. Setahun setelah Masyumi membubarkan diri. Demikianlah suatu sunnatuillah di bebankan kepundak pejuang untuk selalu di ingat oleh pemimpin pejuang.