“Kunjungan kerja “ kali ini kami menyambangi beberapa komunitas kecil saudara-saudara kita di sekitar kaki dan puncak Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, khususnya di sekitar lokasi letusan Gunung Sinabung. Pada 22 sampai 24 September yang lalu ditengah issu akan kembali meletusnya Gunung Sinabung, bahkan konon lebih besar.
Setelah lima jam perjalanan meliuk-liuk kami lalui dalam dinginnya malam di pegunungan dari Kota Medan bersama truk-truk besar yang hendak pergi menuju Aceh, akhirnya kami sampai di desa yang Desa Limang di Kecamatan Tiga Binanga. Di Masjid Harapan, kami diterima hangat.
“masjid ini merupakan basis pembinaan kaum muslimin di sini, cakupannya sampai 7 desa di sekitarnya” tutur ustadz Sahlul, da`I yang bertugas membina masyarakat minoritas di desa Limang dan sekitarnya.
Penduduk muslim didesa yang mayoritas petani penggarap ini sekitar 100 KK dari 400 KK total penduduknya. Dan merupakat komunitas muslim terbesar dibanding desa-desa disekitarnya yang berkisar 25 KK. Maka tidak heran jika untuk kegiatan-kegaiatan keagamaan maupun ketika ada warga muslim yang meninggal didesa sekitar, maka pengurusannya dilakukan oleh ustadz Sahlul atau jamaah yang bisa. Sedangkan jarak desa terdekat dari desa Limang sekitar 15 km yang terletas dibalik perbukitan yang harus melalui alam pegunungan yang belum terjamah. Terbatasnya tenaga da’i menjadi permasalahan utama pembinaan masyarakat yang selama ini mereka hadapi. Bahkan satu desa kini ada yang tinggal 4 KK muslim karena yang lainnya telah murtad.
.”pada hari-hari biasa, kalau ada kematian atau acara keagamaan biasanya saya atau jamaah sini yang mengurusi. Tapi pas , iedul fitri dan iedul adha biasanya mereka tidak sholat karena tidak ada imamnya” cerita ust. Sahlul membuat hati kami miris. “Jadi jangan ditanya tentang Qurban” sambungnya sambil tersenyum.
Beberapa desa sekitar Limang memang tidak terdapat Da`I yang membina. Sehingga hampir dipastikan tidak ada pemotongan hewan Qurban di sana.
Sedangkan untuk pendidikan anak-anak muslim, pada tahun ini sudah mulai dibuka TK Islam yang kegiatannya dilakukan di serambi Masjid. “Alhamdulillah, tahun ini kita bisa membuka TK meski belum ada kelas, meja apalagi mainan anak-anak” cerita ust. Sahlul sambil membandingkan sarana yang ada. “waktu masih sekolah disana, setiap mau makan anak saya selalu berdoa seperti mereka” sela seorang jama`ah.
Kebijakan Pemerintah setempat mewajibkan calon siswa yang hendak masuk SD harus memiliki ijazah TK, sementara belum adanya TK Islam memaksa anak-anak harus sekolah di TK non Muslim.
Obrolan dengan saudara-saudara muslim yang tinggal dipedalaman memang selalu memberikan kesan mendalam.sekalighus menyadarkan betapa kecilnya peran yang telah kami lakukan untuk Islam jika dibandingkan dengan pejuang-pejuang da`wah yang ikhlas berjibaku dipedalaman. Perjuangan yang tidak membutuhkan sorotan media.
Tanpa terasa waktu terus berjalan sementara kami harus melanjutkan perjalanan menyambangi saudara-saudara yang lain di balik perbukitan di kaki Sinabung.
“akhi, tolong antum sampaikan kepada saudara-saudara di Jakarta, Insya Allah antum tahu apa yang kaum muslimin disini butuhkan ”. pesan ustadz yang kini harus berjalan kaki dalam menyambangi binaannya karena sepeda motor bututnya (keluaran tahun ’67) tersapu air bah, diakhir perjumpaan.
Insya Allah, ustadz !! [Op]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar